Karya : Tohirotul Khasanati
Dulu..
Dulu kalian selalu berkata manis pada kami.
Membujuk kami mengikutinya.
Hingga kami terikat.
Terikat dalam sebuah janji yang tidak kami inginkan.
Dulu..
Dulu kata manis kalian kami jadikan panutan.
Hanya agar kami diterima di dalamnya.
Namun..
Kata manis kalian, sekarang menjadi pisau.
Yang menancap di palung hati.
Sakit..
Hingga tak mampu menahan pedih itu.
Sampai - sampai..
Aku tak bisa membendung air mataku.
Tetes - tetes air mata berlinang.
Berlinang membanjiri pipiku.
serasa ingin menjerit dan terbebas..
Betapa besar pengorbanan kami.
Waktu, tenaga, nama baik, ikatan keluarga, semua kami berikan.
Hingga semua milikku serasa ingin hancur.
Namun..
Apa yang kalian balas atas pengorbanan kami?!
Yang kami berikan dengan suka rela.
Kalian malah membalasnya dengan kucilan, ejekan, hingga sebuah bentakan.
Yang menbuat hati ini terasa teririris.
Menjadi bagian - bagian terkecil di dunia ini.
Hingga kalian pun tak bisa melihat, merasa, mendengar pengorbanan kami lagi.
Dulu kalian selalu berkata manis pada kami.
Membujuk kami mengikutinya.
Hingga kami terikat.
Terikat dalam sebuah janji yang tidak kami inginkan.
Dulu..
Dulu kata manis kalian kami jadikan panutan.
Hanya agar kami diterima di dalamnya.
Namun..
Kata manis kalian, sekarang menjadi pisau.
Yang menancap di palung hati.
Sakit..
Hingga tak mampu menahan pedih itu.
Sampai - sampai..
Aku tak bisa membendung air mataku.
Tetes - tetes air mata berlinang.
Berlinang membanjiri pipiku.
serasa ingin menjerit dan terbebas..
Betapa besar pengorbanan kami.
Waktu, tenaga, nama baik, ikatan keluarga, semua kami berikan.
Hingga semua milikku serasa ingin hancur.
Namun..
Apa yang kalian balas atas pengorbanan kami?!
Yang kami berikan dengan suka rela.
Kalian malah membalasnya dengan kucilan, ejekan, hingga sebuah bentakan.
Yang menbuat hati ini terasa teririris.
Menjadi bagian - bagian terkecil di dunia ini.
Hingga kalian pun tak bisa melihat, merasa, mendengar pengorbanan kami lagi.
No comments:
Post a Comment