BIASAKAN
HIDUP DISIPLIN
Di pagi yang cerah muncul fajar dari ufuk
timur dengan sinar kemerah-merahan.Membuat dingin menjadi hangat. Saat itu juga
muncul sepasang kakak adik dengan wajah yang begitu tergesa-gesa dan begitu
cemas. Karena kebiasaan mereka yang selalu buruk, berangkat sekolah pada jam
07.00 pagi tepat dari rumah, dan bisa dibayangkan bila jaraknya dari rumah
kira-kira 8 km dengan naik sepeda dan jalan yang begitu jelek. Pasti mereka
selalu absen buat dapat hukuman dari guru-guru pengawas gerbang.
Seorang kakak perempuan dengan kesukaannya nonton sepak
bola, pakai baju / yang lainnya seperti kerudung dengan warna kuning, dan suka
makan sayur-sayuran hijau seperti kangkung. Namun sifat itu berbeda dengan
adiknya. Adiknya lebih suka nonton kartun Jepang. Dia juga sangat benci dengan
warna kuning dan lebih suka warna biru langit. Meskipun begitu, ia juga suka
sayur-sayuran hijau, tapi kalau kakaknya tidak suka sayuran bayam, adiknya
malah paling suka sayur bayam.
“Ih! Kenapa sih kita selalu telat? Pasti ini gara-gara
kamu dik! Makanya kalau dandan itu
jangan lama-lama!” Kata Mytha (kakak perempuannya) pada Ana.
“Enak saja...!!! Bukannya kakak yang lama, udah mandi
lamanya kayak putri Solo, pake kerudung kayak mau ketemu ama gebetan aja!” Kata
Ana (adik perempuannya) Mytha.
“Enak saja...!!! Elo...!" Kata Mytha sambil marah.
“Elo...!!!” Kata Ana dengan muka yang siap buat meledak.
“Elo,elo,elo...!!!”
“Elo,elo,elo,elo,elo,elo,elo...!!!”
“Mytha! Ana! Sudah! Kalian kakak adik sama aja bandelnya!!!"
Kata seorang pengawas yang bernama Hasan dengan sepatu yang siap dilempar ke arah
Mytha dan Ana.
“Aduh...!!! Sakit tahu pak!” KataMytha dan Ana dengan
wajah cemberut. “Makanya! Jangan
berantem! Sekarang kalian pergi ke toilet, bersihkan seluruh toilet putri
sampai ‘kinclooong’!!!” Kata Pak Hasan, sampai-sampai air ludahnya menghujani wajah Mytha
dan Ana.
“Pak...!!! Jangan lebay dong! Masak
sampai hujan gini. Kan nanti wajah kita berdua nggak cantik lagi. Hehehe” Kata
kedua siswi itu sambil ngebersihin wajah mereka yang kena air ludah.
“Iya,iya...!!! Emang bapak kalo
marah hujan semua. Makanya kalo nggak mau dihujani air ludah lagi, sekarang
kalian pergi ke toilet. Bersihkan semua toilet putri sampai ‘bersih’!” Kata Pak
Hasan memberi perintah.
“Baik Pak.” Jawab Mytha dan Ana
sambil pergi menuju toilet putri.
Sampai di toilet putri pun, mereka membersihkan
toilet dengan wajah cemberut. Tak disangka, baru saja mereka ditinggal oleh
gurunya yang paling killer, mereka langsung bertengkar lagi. Sampai-sampai
toilet yang sudah mereka bersihkan jadi kebanjiran.
“Yah...! Kotor lagi deh, malah baju
kotor kayak tikus got kecebur kolam lagi.” Kata Ana sambil memelas.
“Ini semua gara-gara elo, Kak! Gara-gara
elo toilet jadi basah and gue juga jadi ‘basah’.” Kata Ana masih sambil pegang pel.
“Bukannya elo ya. Kan elo yang
marah-marah sampai nendang ember.” Celetuk Mytha pada Ana.
“Emang si...” Kata Ana sambil
garuk-garuk kepala. “Nah tu ngaku juga.” Kata Mytha sambil nunjukin jari telunjuknya
pada Ana.
“Tapi kan....” Kata Ana sambil
nyari-nyari alesan.
“Apa...? Hayo...? Apa...?” kata
Mytha sambil maju-majuin mulutnya di depan muka Ana.
“Tapi kan...!!! Elo yang buat gue
marah sampe-sampe gue nendang ember.” Kata Ana rada kesel sama Mytha.
“Iii...nuduh-nuduh. Lagi pula kan
gue cuma bilang gue nyeseeelll bangeettt punya adik kayak looooeeee.” Kata
Mytha sambil ngerasin suaranya ditelinga Ana.
“Hiii... emangnya gue nggak nyesel
punya kakak kayak loe...!” Kata Ana sambil geregetan sampe-sampe keret-keret
gigi.
“Hiii.....!!!” Mytha dan Ana
menjerit sambil jambak-jambakan rambut.
Akhirnya, mereka pun ketahuan sama
gurunya yang galak. Siapa lagi kalo bukan Pak Hasan. Mereka disuruh bersihin
toilet putri yang sudah dibuat kayak kapal pecah. Dan setelah selesai, mereka
disuruh hormat dibawah bendera sampai jam istirahat kedua (jam 11.30 WIB). Bel
istirahat kedua pun akhirnya berbunyi.
“Akhirnya, hukumannya sudah
berakhir...” Kata Mytha dan Ana sambil bersyukur. Karena mereka berdua sudah
laper, dan kepanasan.
“Alhamduliliah ya. Sesuatu banget. Hehehehehe.”
kata Mytha dan Ana sambil niruin gayanya Sahrini, setelah itu tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, Pak Hasan datang
menghampiri Mytha dan Ana yang masih gembira-gembiranya. Karena bisa lepas dari
hukuman yang membuat mereka sengsara. Namun kesenangan mereka berdua tidak
berlangsung lama ketika melihat Pak Hasan menghampiri mereka berdua. Sangking
takutnya lihat Pak Hasan, mereka berdua sebenarnya pengen banget kabur. Tapi, mereka
takut kalau nanti kabur bakalan kena hukuman lagi. Tak ada pilihan lain selain
menunggu gurunya yang paling killer diantara guru-guru pengajar di kelasnya itu.
Pak Hasan akhirnya berhenti di depan Mytha dan Ana.
“Mytha, Ana. Kalian boleh istirahat.
Karena hukuman kalian sudah selesai.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum.
“Beneran ni, Pak...?! Kami boleh
istirahat?!” Tanya Mytha dan Ana sangking senengnya.
“Ya bolehlah... masak nggak boleh. Tapi
ingat! Jika kalian besok terlambat lagi... nggak ada kata maaf buat kalian!” Kata
Pak Hasan sambil miringin tangan kirinya di depan lehernya dan menariknya ke
kanan.
“Siap bos...!! Pasti besok nggak
telat lagi! hehehe.” Kata Mytha dan Ana sambil tangan hormat dan tersenyum.
“Bagus.. jangan bandel lagi ya.” Kata
Pak Hasan sambil tersenyum karna gembira melihat dua siswinya yang bandel
menurut.
“Ya sudah. Sekarang kalian masuk
kelas karna jam istirahat sudah selesai. Lagian kalian harus pinjam buku, kan
kalian tadi nggak ikut pelajaran dari jam 1 sampai jam ke 6.” Kata Pak Hasan
memberitahu.
Mytha dan Ana pun pergi masuk ke
kelas siap-siap keluarin buku buat ngikutin pelajaran. Dan setelah itu, mereka
berencana buat pinjem buku. Tapi pada saat mereka mau pinjem buku, satu kelas
semuanya kompak nggak mau minjamin. Entah kenapa nggak seperti biasanya. Suasana
yang membuat mereka tambah sebel lagi, belum selesai masalah yang mereka hadapi,
ditambah masalah lagi. Datang dua laki-laki cecurut yang suka ngerjain mereka. Padahal
sebenarnya mereka naksir berat sama Mytha dan Ana. Cuma mereka berdua nggak
pernah serius. Mereka berdua juga sama kakak adik, hanya saja beda Ibu. Mereka
hanya saudara seayah. Tapi mereka sangat akrab. Bahkan mereka selalu berangkat
sekolah bareng. Meskipun masih sering berantem cuma gara-gara masalah sepele.
“Hai... Mytha, Ana. Kalian lagi cari
pinjaman buku ya?” Kata Adam dan Kris sambil tersenyum. Karna rencananya berhasil
buat satu kelas nggak ada yang mau minjamin buku.
“Emangnya kalo iya, kenapa?! Masalah
buat kalian.” Kata Mytha dan Ana kompakan ngocehin Adam dan Kris. Karena mereka
berdua sudah terlanjur sebel sama mereka.
“Ya.. tentu masalah dong. Kan kalau
Ana susah aku juga ikut susah...” Kata Kris sambil tersenyum dan sedikit
ngegombal.
“Ya... Aku juga. Kalau Mytha susah kan aku
juga ikut susah, kan kita sehati.” Kata Adam ikut-ikutan ngegombal.
“Terus...!! kita harus bilang double waw, gitu!!!" Kata
Mytha dan Ana sangking bosannya denger gombalan Adam dan Kris.
“Jangan bilang
double waw. Bilang kamu suka sama aku aja udah cukup kok. Ya kan, Kak...?” Kata
Kris pada Ana dan cari alesan panggil kakaknya supaya nggak malu sendirian.
“Ih! Kalo aku si mintanya ucapan I LOVE YOU dari Mytha.”
Kata Adam pada Kris sambil mandangin Mytha.
“PD amat si kalian. Emangnya kalian kira kami mau?! Oggah
ya!! Kalo dalam bahasa inggrisnya, NO WAY!!!” Kata Mytha dan Ana kompakan, sambil
ngerasin suaranya di telinga mereka dan setelah itu menuju bangkunya.
“Tapi kalian kan butuh buku kami... Kalo nggak pinjam
buku kami, kalian akan ketinggalan pelajaran. Apalagi peringkat kalian kan
paling bagus diantara kelas 8 lainnya.”
“Makanya... Buku kalian bawa sini!!!” Kata Mytha danAna
sambil nyerobot buku yang semula ada di tangan Kris dan Adam.
“Yah... Yah... Bukunya diambil deh... Ah...!!” Kata Adam
dan Kris memelas.
Akhirnya perdebatan mereka pun berakhir dengan datangnya
guru matematika mereka, yaitu Pak Hasan. Murid-murid satu kelas serentak
langsung kaget. Mereka langsung duduk ke bangkunya masing-masing dan suasana
kelas pun menjadi sepi tanpa ada satu siswa yang berani berbicara. Apalagi
Mytha, Ana, Adam, dan Kris. Mereka langsung diam. Adam dan Kris langsung duduk
di bangkunya, meskipun masih dengan muka cemberut. Kelas pun di mulai dengan
salam yang di ucapkan Pak Hasan.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh” Salam Pak
Hasan.
“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh” Serentak satu
kelas menjawab salam Pak Hasan.
“Gimana keadaan kelas? Baik- baik kan?” Kata Pak Hasan menyapa
satu kelas.
“Baik.. Pak” Jawab murid-murid.
“Oh ya. Gimana Mytha dan Ana? Sudah dapat pinjaman buku
dari jam 1 sampai jam ke 6..?” Tanya Pak Hasan pada Mytha dan Ana.
“Udah dong pak..” Jawab Mytha dan Ana.
“Bagus ...coba bapak lihat mana bukunya?” Tanya Pak Hasan
masih sedikit curiga.
“Ini..” Mytha dan Ana menunjukkan bukunya dengan wajah
gembira.
“Bagus-bagus. Meskipun kalian dihukum 6 jam pelajaran,
kalian selalu menuruti kata bapak” Puji Pak Hasan pada Mytha dan Ana.
“Ok! Mari kita mulai pelajarannya, buka buku paket
matematika hal 99 bab 4.” Perintah Pak Hasan.
Adam dan Kris yang dari awal Pak Hasan masuk sampai
hampir selesai menerangkan masih kelihatan cemberut, akhirnya kena teguran dari
Pak Hasan.
“Adam! Kris! Kenapa kalian saya lihatin dari tadi kok
cemberut terus?! Apa kalian tidak suka bapak mengajar di kelas ini?!” Tegur Pak
Hasan.
Tapi mereka berdua tetap ngalamun sambil cemberut.
Akhirnya Pak Hasan mulai dengan pidato-pidatonya yang membuat mata murid
-muridnya dalam satu kelas nggak ada yang sanggup terbuka. Untungnya jam
pelajaran pun selesai dan bel berbunyi. Satu kelas masih pada keluar dari kelas
dalam keadaan sedikit tertidur. Termasuk Mytha dan Ana yang terkenal
kepandaiannya dan kemahirannya menghindari serangan ngantuk dari Pak Hasan,
akhirnya mereka runtuh juga. Mereka juga keluar dari kelas dalam keadaan
sedikit tertidur. Namun kali ini sungguh luar biasa. Adam dan Kris yang kena
omelan tersebut malah nggak ngantuk sedikit pun. Mereka berdua malah membuat
seluruh mata siswa ngantuk jadi terbelelek. Tapi kesenangan mereka berdua tak
berlanjut. Seusai mereka berdua tertawa terbahak bahak karena melihat teman
temannya jatuh. Bahkan sampai membuat Mytha dan Ana masuk ke dalam tong sampah.
Mereka berdua kena pukul dan marah satu kelas.
Akhirnya, siang pun berganti malam. Malam saat itu begitu
terang. Tak seperti biasanya, malam itu bulan terlihat sangat terang. Ana dan
Mytha yang biasanya tidur jam 8 malam, setelah selesai mengerjakan PR. Mereka
malah melihat bulan hingga larut malam. Dan akhirnya ibu mereka datang menegur
mereka.
“Eh….. Kenapa
kalian belum tidur…..?” Tanya ibunya khawatir.
“Iya ma… Bentar lagi ah.. Bulannya lagi bagus banget nih.
Paling juga sekarang masih jam 8 kan?” Jawab Mytha asal-asalan
“Ya ampun…! Kalian memang nggak disiplin banget ya!
Sekolah sudah telat mulu, pulang nggak langsung sholat malah nonton tv.
Sekarang selesai belajar, nggak langsung tidur malah lihat bulan…! Cepetan
sekarang tidur!” Perintah ibu mereka.
“Iya-iya kita tidur sekarang.” Jawab keduanya.
Fajar pagi muncul kembali, namun kali ini nggak kayak
biasanya. Hujan turun sangat lebat sejak pukul 05.30 WIB. Dan yang lebih
anehnya, Mytha dan Ana berpakaian sangat rapi. Begitu bersih, dan kaos kakinya
begitu wangi sampai membuat ibunya tidak bisa mengedipkan mata.
“ Ih waww, so amazing… Sejak kapan kalian jadi disiplin
kayak gini?” Tanya ibu mereka terheran-heran.
“Ya dong… Kita kan anak mama paling pinter” Ucap Mytha
dan Ana saking PD nya.
“Kami berangkat dulu ya ma, assalamualaikum….
Mereka pun berangkat sekolah sambil tersenyum pada ibunya,
lalu konsen pada jalan. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata para guru penjaga
gerbang berencana. Barang siapa yang datang paling awal ke sekolahan dan
berpakaian dengan rapi, mulai hari itu akan mendapatkan hadiah dan mendapatkan
nilai A plus di setiap kepribadian raport. Sesampainya di sekolah, Mytha dan
Ana merasa bingung dan bertanya-tanya. ‘Kenapa pagi-pagi begini guru-guru sudah
berjaga di depan gerbang ?’ Guru-guru malah lebih kaget lagi, karena biasanya 2
murid itulah yang selalu terlambat. Tapi sekarang, malah mereka berdua yang
datang paling awal.
“Ana, Mytha. Kok kalian nggak biasanya. Biasanya kalian
kan berangkat terlambat?” Tanya salah satu guru keheranan.
“Iya bu, mulai sekarang kami tidak akan terlambat lagi.
Karena kami bertekad, akan menjadi murid yang bisa menjadi teladan bagi murid
yang lain.” Jawab mereka berdua besamaan.
“Bagus… Kami senang kalau kalian mau berubah. Kami punya
hadiah untuk kalian. Karena kalianlah yang berangkat paling awal. Kalian juga
akan mendapat nilai A plus di setiap kepribadian di raport, yang sekaligus bisa
menambah nilai kalian 15%. Selamat ya…”
“Ana dan Mytha sangat bersyukur karena bisa mendapatkan
apresiasi yang bagus dari sekolah dengan perubahan mereka. Terimakasih banyak
Pak. Kami tidak akan melupakan peristiwa kali ini.”
Dengan
begini, akhirnya mereka bisa terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya.