Saturday, 31 October 2015

Cerpen Sekolah "Biasakan Hidup Disiplin"



BIASAKAN HIDUP DISIPLIN

  Di pagi yang cerah muncul fajar dari ufuk timur dengan sinar kemerah-merahan.Membuat dingin menjadi hangat. Saat itu juga muncul sepasang kakak adik dengan wajah yang begitu tergesa-gesa dan begitu cemas. Karena kebiasaan mereka yang selalu buruk, berangkat sekolah pada jam 07.00 pagi tepat dari rumah, dan bisa dibayangkan bila jaraknya dari rumah kira-kira 8 km dengan naik sepeda dan jalan yang begitu jelek. Pasti mereka selalu absen buat dapat hukuman dari guru-guru pengawas gerbang.
            Seorang kakak perempuan dengan kesukaannya nonton sepak bola, pakai baju / yang lainnya seperti kerudung dengan warna kuning, dan suka makan sayur-sayuran hijau seperti kangkung. Namun sifat itu berbeda dengan adiknya. Adiknya lebih suka nonton kartun Jepang. Dia juga sangat benci dengan warna kuning dan lebih suka warna biru langit. Meskipun begitu, ia juga suka sayur-sayuran hijau, tapi kalau kakaknya tidak suka sayuran bayam, adiknya malah paling suka sayur bayam.

            “Ih! Kenapa sih kita selalu telat? Pasti ini gara-gara kamu dik! Makanya kalau  dandan itu jangan lama-lama!” Kata Mytha (kakak perempuannya) pada Ana.
            “Enak saja...!!! Bukannya kakak yang lama, udah mandi lamanya kayak putri Solo, pake kerudung kayak mau ketemu ama gebetan aja!” Kata Ana (adik perempuannya) Mytha.
            “Enak saja...!!! Elo...!" Kata Mytha sambil marah.
            “Elo...!!!” Kata Ana dengan muka yang siap buat meledak.
            “Elo,elo,elo...!!!”
            “Elo,elo,elo,elo,elo,elo,elo...!!!”
            “Mytha! Ana! Sudah! Kalian kakak adik sama aja bandelnya!!!" Kata seorang pengawas yang bernama Hasan dengan sepatu yang siap dilempar ke arah Mytha dan Ana.
            “Aduh...!!! Sakit tahu pak!” KataMytha dan Ana dengan wajah cemberut.   “Makanya! Jangan berantem! Sekarang kalian pergi ke toilet, bersihkan seluruh toilet putri sampai ‘kinclooong’!!!” Kata Pak Hasan, sampai-sampai air                                                      ludahnya menghujani wajah Mytha dan Ana.
            “Pak...!!! Jangan lebay dong! Masak sampai hujan gini. Kan nanti wajah kita berdua nggak cantik lagi. Hehehe” Kata kedua siswi itu sambil ngebersihin wajah mereka yang kena air ludah.
            “Iya,iya...!!! Emang bapak kalo marah hujan semua. Makanya kalo nggak mau dihujani air ludah lagi, sekarang kalian pergi ke toilet. Bersihkan semua toilet putri sampai ‘bersih’!” Kata Pak Hasan memberi perintah.
            “Baik Pak.” Jawab Mytha dan Ana sambil pergi menuju toilet putri.

            Sampai di toilet putri pun, mereka membersihkan toilet dengan wajah cemberut. Tak disangka, baru saja mereka ditinggal oleh gurunya yang paling killer, mereka langsung bertengkar lagi. Sampai-sampai toilet yang sudah mereka bersihkan jadi kebanjiran.

            “Yah...! Kotor lagi deh, malah baju kotor kayak tikus got kecebur kolam lagi.” Kata Ana sambil memelas.
            “Ini semua gara-gara elo, Kak! Gara-gara elo toilet jadi basah and gue juga jadi ‘basah’.” Kata Ana masih sambil pegang pel.
            “Bukannya elo ya. Kan elo yang marah-marah sampai nendang ember.” Celetuk Mytha pada Ana.
            “Emang si...” Kata Ana sambil garuk-garuk kepala.                                   “Nah tu ngaku juga.” Kata Mytha sambil nunjukin jari telunjuknya pada Ana.
            “Tapi kan....” Kata Ana sambil nyari-nyari alesan.
            “Apa...? Hayo...? Apa...?” kata Mytha sambil maju-majuin mulutnya di depan muka Ana.
            “Tapi kan...!!! Elo yang buat gue marah sampe-sampe gue nendang ember.” Kata Ana rada kesel sama Mytha.
            “Iii...nuduh-nuduh. Lagi pula kan gue cuma bilang gue nyeseeelll bangeettt punya adik kayak looooeeee.” Kata Mytha sambil ngerasin suaranya ditelinga Ana.
            “Hiii... emangnya gue nggak nyesel punya kakak kayak loe...!” Kata Ana sambil geregetan sampe-sampe keret-keret gigi.
            “Hiii.....!!!” Mytha dan Ana menjerit sambil jambak-jambakan rambut.

            Akhirnya, mereka pun ketahuan sama gurunya yang galak. Siapa lagi kalo bukan Pak Hasan. Mereka disuruh bersihin toilet putri yang sudah dibuat kayak kapal pecah. Dan setelah selesai, mereka disuruh hormat dibawah bendera sampai jam istirahat kedua (jam 11.30 WIB). Bel istirahat kedua pun akhirnya berbunyi.

            “Akhirnya, hukumannya sudah berakhir...” Kata Mytha dan Ana sambil bersyukur. Karena mereka berdua sudah laper, dan kepanasan.
            “Alhamduliliah ya. Sesuatu banget. Hehehehehe.” kata Mytha dan Ana sambil niruin gayanya Sahrini, setelah itu tertawa terbahak-bahak.

            Tak lama kemudian, Pak Hasan datang menghampiri Mytha dan Ana yang masih gembira-gembiranya. Karena bisa lepas dari hukuman yang membuat mereka sengsara. Namun kesenangan mereka berdua tidak berlangsung lama ketika melihat Pak Hasan menghampiri mereka berdua. Sangking takutnya lihat Pak Hasan, mereka berdua sebenarnya pengen banget kabur. Tapi, mereka takut kalau nanti kabur bakalan kena hukuman lagi. Tak ada pilihan lain selain menunggu gurunya yang paling killer diantara guru-guru pengajar di kelasnya itu. Pak Hasan akhirnya berhenti di depan Mytha dan Ana.
           
            “Mytha, Ana. Kalian boleh istirahat. Karena hukuman kalian sudah selesai.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum.
            “Beneran ni, Pak...?! Kami boleh istirahat?!” Tanya Mytha dan Ana sangking senengnya.
            “Ya bolehlah... masak nggak boleh. Tapi ingat! Jika kalian besok terlambat lagi... nggak ada kata maaf buat kalian!” Kata Pak Hasan sambil miringin tangan kirinya di depan lehernya dan menariknya ke kanan.
            “Siap bos...!! Pasti besok nggak telat lagi! hehehe.” Kata Mytha dan Ana sambil tangan hormat dan tersenyum.
            “Bagus.. jangan bandel lagi ya.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum karna gembira melihat dua siswinya yang bandel menurut.
            “Ya sudah. Sekarang kalian masuk kelas karna jam istirahat sudah selesai. Lagian kalian harus pinjam buku, kan kalian tadi nggak ikut pelajaran dari jam 1 sampai jam ke 6.” Kata Pak Hasan memberitahu.
            Mytha dan Ana pun pergi masuk ke kelas siap-siap keluarin buku buat ngikutin pelajaran. Dan setelah itu, mereka berencana buat pinjem buku. Tapi pada saat mereka mau pinjem buku, satu kelas semuanya kompak nggak mau minjamin. Entah kenapa nggak seperti biasanya. Suasana yang membuat mereka tambah sebel lagi, belum selesai masalah yang mereka hadapi, ditambah masalah lagi. Datang dua laki-laki cecurut yang suka ngerjain mereka. Padahal sebenarnya mereka naksir berat sama Mytha dan Ana. Cuma mereka berdua nggak pernah serius. Mereka berdua juga sama kakak adik, hanya saja beda Ibu. Mereka hanya saudara seayah. Tapi mereka sangat akrab. Bahkan mereka selalu berangkat sekolah bareng. Meskipun masih sering berantem cuma gara-gara masalah sepele.

            “Hai... Mytha, Ana. Kalian lagi cari pinjaman buku ya?” Kata Adam dan Kris sambil tersenyum. Karna rencananya berhasil buat satu kelas nggak ada yang mau minjamin buku.
            “Emangnya kalo iya, kenapa?! Masalah buat kalian.” Kata Mytha dan Ana kompakan ngocehin Adam dan Kris. Karena mereka berdua sudah terlanjur sebel sama mereka.
            “Ya.. tentu masalah dong. Kan kalau Ana susah aku juga ikut susah...” Kata Kris sambil tersenyum dan sedikit ngegombal.
             “Ya... Aku juga. Kalau Mytha susah kan aku juga ikut susah, kan kita sehati.” Kata Adam ikut-ikutan ngegombal.
            “Terus...!! kita harus bilang double waw, gitu!!!" Kata Mytha dan Ana sangking bosannya denger gombalan Adam dan Kris.
             “Jangan bilang double waw. Bilang kamu suka sama aku aja udah cukup kok. Ya kan, Kak...?” Kata Kris pada Ana dan cari alesan panggil kakaknya supaya nggak malu sendirian.
            “Ih! Kalo aku si mintanya ucapan I LOVE YOU dari Mytha.” Kata Adam pada Kris sambil mandangin Mytha.
            “PD amat si kalian. Emangnya kalian kira kami mau?! Oggah ya!! Kalo dalam bahasa inggrisnya, NO WAY!!!” Kata Mytha dan Ana kompakan, sambil ngerasin suaranya di telinga mereka dan setelah itu menuju bangkunya.
            “Tapi kalian kan butuh buku kami... Kalo nggak pinjam buku kami, kalian akan ketinggalan pelajaran. Apalagi peringkat kalian kan paling bagus diantara kelas 8 lainnya.”
            “Makanya... Buku kalian bawa sini!!!” Kata Mytha danAna sambil nyerobot buku yang semula ada di tangan Kris dan Adam.
            “Yah... Yah... Bukunya diambil deh... Ah...!!” Kata Adam dan Kris memelas.

            Akhirnya perdebatan mereka pun berakhir dengan datangnya guru matematika mereka, yaitu Pak Hasan. Murid-murid satu kelas serentak langsung kaget. Mereka langsung duduk ke bangkunya masing-masing dan suasana kelas pun menjadi sepi tanpa ada satu siswa yang berani berbicara. Apalagi Mytha, Ana, Adam, dan Kris. Mereka langsung diam. Adam dan Kris langsung duduk di bangkunya, meskipun masih dengan muka cemberut. Kelas pun di mulai dengan salam yang di ucapkan Pak Hasan.

            “Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh” Salam Pak Hasan.
            “Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh” Serentak satu kelas menjawab salam Pak Hasan.
            “Gimana keadaan kelas? Baik- baik kan?” Kata Pak Hasan menyapa satu kelas.
            “Baik.. Pak” Jawab murid-murid.
            “Oh ya. Gimana Mytha dan Ana? Sudah dapat pinjaman buku dari jam 1 sampai jam ke 6..?” Tanya Pak Hasan pada Mytha dan Ana.
            “Udah dong pak..” Jawab Mytha dan Ana.
            “Bagus ...coba bapak lihat mana bukunya?” Tanya Pak Hasan masih sedikit curiga.
            “Ini..” Mytha dan Ana menunjukkan bukunya dengan wajah gembira.
            “Bagus-bagus. Meskipun kalian dihukum 6 jam pelajaran, kalian selalu menuruti kata bapak” Puji Pak Hasan pada Mytha dan Ana.
            “Ok! Mari kita mulai pelajarannya, buka buku paket matematika hal 99 bab 4.” Perintah Pak Hasan.

            Adam dan Kris yang dari awal Pak Hasan masuk sampai hampir selesai menerangkan masih kelihatan cemberut, akhirnya kena teguran dari Pak Hasan.

            “Adam! Kris! Kenapa kalian saya lihatin dari tadi kok cemberut terus?! Apa kalian tidak suka bapak mengajar di kelas ini?!” Tegur Pak Hasan.

            Tapi mereka berdua tetap ngalamun sambil cemberut. Akhirnya Pak Hasan mulai dengan pidato-pidatonya yang membuat mata murid -muridnya dalam satu kelas nggak ada yang sanggup terbuka. Untungnya jam pelajaran pun selesai dan bel berbunyi. Satu kelas masih pada keluar dari kelas dalam keadaan sedikit tertidur. Termasuk Mytha dan Ana yang terkenal kepandaiannya dan kemahirannya menghindari serangan ngantuk dari Pak Hasan, akhirnya mereka runtuh juga. Mereka juga keluar dari kelas dalam keadaan sedikit tertidur. Namun kali ini sungguh luar biasa. Adam dan Kris yang kena omelan tersebut malah nggak ngantuk sedikit pun. Mereka berdua malah membuat seluruh mata siswa ngantuk jadi terbelelek. Tapi kesenangan mereka berdua tak berlanjut. Seusai mereka berdua tertawa terbahak bahak karena melihat teman temannya jatuh. Bahkan sampai membuat Mytha dan Ana masuk ke dalam tong sampah. Mereka berdua kena pukul dan marah satu kelas.
            Akhirnya, siang pun berganti malam. Malam saat itu begitu terang. Tak seperti biasanya, malam itu bulan terlihat sangat terang. Ana dan Mytha yang biasanya tidur jam 8 malam, setelah selesai mengerjakan PR. Mereka malah melihat bulan hingga larut malam. Dan akhirnya ibu mereka datang menegur mereka.

            “Eh…..  Kenapa kalian belum tidur…..?” Tanya ibunya khawatir.
            “Iya ma… Bentar lagi ah.. Bulannya lagi bagus banget nih. Paling juga sekarang masih jam 8 kan?” Jawab Mytha asal-asalan
            “Ya ampun…! Kalian memang nggak disiplin banget ya! Sekolah sudah telat mulu, pulang nggak langsung sholat malah nonton tv. Sekarang selesai belajar, nggak langsung tidur malah lihat bulan…! Cepetan sekarang tidur!” Perintah ibu mereka.
            “Iya-iya kita tidur sekarang.” Jawab keduanya.
           
            Fajar pagi muncul kembali, namun kali ini nggak kayak biasanya. Hujan turun sangat lebat sejak pukul 05.30 WIB. Dan yang lebih anehnya, Mytha dan Ana berpakaian sangat rapi. Begitu bersih, dan kaos kakinya begitu wangi sampai membuat ibunya tidak bisa mengedipkan mata.

            “ Ih waww, so amazing… Sejak kapan kalian jadi disiplin kayak gini?” Tanya ibu mereka terheran-heran.
            “Ya dong… Kita kan anak mama paling pinter” Ucap Mytha dan Ana saking PD nya.
            “Kami berangkat dulu ya ma, assalamualaikum….

            Mereka pun berangkat sekolah sambil tersenyum pada ibunya, lalu konsen pada jalan. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata para guru penjaga gerbang berencana. Barang siapa yang datang paling awal ke sekolahan dan berpakaian dengan rapi, mulai hari itu akan mendapatkan hadiah dan mendapatkan nilai A plus di setiap kepribadian raport. Sesampainya di sekolah, Mytha dan Ana merasa bingung dan bertanya-tanya. ‘Kenapa pagi-pagi begini guru-guru sudah berjaga di depan gerbang ?’ Guru-guru malah lebih kaget lagi, karena biasanya 2 murid itulah yang selalu terlambat. Tapi sekarang, malah mereka berdua yang datang paling awal.

            “Ana, Mytha. Kok kalian nggak biasanya. Biasanya kalian kan berangkat terlambat?” Tanya salah satu guru keheranan.
            “Iya bu, mulai sekarang kami tidak akan terlambat lagi. Karena kami bertekad, akan menjadi murid yang bisa menjadi teladan bagi murid yang lain.” Jawab mereka berdua besamaan.
            “Bagus… Kami senang kalau kalian mau berubah. Kami punya hadiah untuk kalian. Karena kalianlah yang berangkat paling awal. Kalian juga akan mendapat nilai A plus di setiap kepribadian di raport, yang sekaligus bisa menambah nilai kalian 15%. Selamat ya…”
            “Ana dan Mytha sangat bersyukur karena bisa mendapatkan apresiasi yang bagus dari sekolah dengan perubahan mereka. Terimakasih banyak Pak. Kami tidak akan melupakan peristiwa kali ini.”

Dengan begini, akhirnya mereka bisa terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya.